Lynx menatap Jelita dengan serius, lalu berkata dengan nada tegas, “Jelita, aku janji akan menyelamatkan mereka. Tapi sekarang, kau harus aman terlebih dahulu. Aku tidak bisa melawan mereka semua sambil melindungimu.”

Jelita menggigit bibirnya, jelas ia tidak ingin pergi. Namun, sorot mata Lynx yang penuh keyakinan membuatnya menelan keraguannya. “Tapi... bagaimana kalau mereka semua tertangkap? Bagaimana kalau mereka semua...”

“Mereka tidak akan terluka selama aku masih bernapas,” potong Lynx. “Percayalah padaku. Kita harus bergerak sekarang. Mereka akan membutuhkan bantuanmu setelah ini.”

Jelita mengangguk pelan, meskipun matanya tetap memandang ke arah sungai dengan cemas. Lynx menarik napas panjang sebelum melanjutkan perjalanan, membawa Jelita menjauh dari area pertempuran.

Setelah beberapa menit berlari tanpa henti, Lynx menemukan tempat aman di sebuah lembah kecil yang tertutup rapat oleh pepohonan tinggi. Ia menurunkan Jelita dengan hati-hati, memastikan tidak ada luka baru yang muncul dari perjalanan mereka.

“Kau harus tinggal di sini,” kata Lynx sambil menatap sekeliling. “Tempat ini cukup jauh dari perkampungan perampok. Mereka tidak akan menemukannya dengan mudah.”

“Tapi kau...” Jelita berusaha berbicara, tapi Lynx mengangkat tangannya, meminta dia berhenti.

“Jelita, dengarkan aku. Aku sudah melihat apa yang perampok itu lakukan. Mereka tidak hanya mencuri dan menyiksa, tapi mereka juga menghancurkan apa saja yang mereka sentuh. Aku tahu keluargamu di sana, tapi jika aku membawa mereka semua keluar, aku butuh kau tetap hidup.”

Jelita menggenggam tangannya dengan gemetar. “Aku percaya padamu, Lynx. Tapi mereka....” Jelita tidak mampu melanjutkan kata-katanya.

Lynx menepuk bahu Jelita dengan lembut. “Aku akan kembali dengan mereka. Kau punya kata-kataku.”

Setelah memastikan Jelita aman, Lynx mulai bersiap untuk kembali ke area pertempuran. Namun, sebelum ia pergi, Jelita menatapnya dengan mata penuh harapan.

“Lynx...” panggilnya.

“Apa?” Lynx berbalik.

“Kau harus berhati-hati. Perampok-perampok itu sangat kuat. Dan... terima kasih,” katanya dengan suara pelan, matanya berkaca-kaca.

Lynx mengangguk, lalu melesat pergi ke arah sungai dengan langkah senyap.

Sementara itu, di sungai, situasi suku Yaksa semakin memburuk. Para perampok yang telah menyiapkan jebakan di sepanjang jalur air kini menggiring perahu-perahu Yaksa ke satu titik sempit. Panah meluncur tanpa henti, dan beberapa prajurit Yaksa mulai kelelahan melawan.

Ayunga berdiri dengan tubuh basah kuyup di atas salah satu perahu yang mulai bocor. Tombaknya patah, dan darah mengalir dari lengannya. Ia melihat ke sekelilingnya, melihat orang-orangnya yang mulai kehilangan semangat.

“Bertahanlah!” teriak Ayunga dengan suara serak. “Kita tidak boleh menyerah!”

Namun, serangan perampok semakin intens. Jaring-jaring besar dilemparkan ke air, menjebak perahu-perahu Yaksa yang tersisa. Para pria Yaksa yang tertangkap dilempar ke darat, diikat dan dipukul hingga tidak mampu melawan.

Uban, yang mencoba memimpin perlawanan terakhir, tertangkap setelah salah satu perampok memukulnya dari belakang. Ia jatuh ke tanah dengan wajah penuh darah, tapi matanya tetap menatap musuh dengan kebencian yang membara.

“Bawa mereka ke perkampungan!” teriak salah satu pimpinan perampok. “Kita akan tunjukkan kepada mereka apa akibatnya melawan kita!”

Para pria Yaksa yang selamat, termasuk Ayunga dan Uban, digiring ke arah perkampungan dengan tangan terikat. Teriakan mereka menggema di sepanjang sungai, tapi tidak ada yang bisa mendengar, kecuali Lynx yang kini menyaksikan dari kejauhan.

Dari puncak bukit kecil di dekat sungai, Lynx melihat dengan jelas bagaimana suku Yaksa digiring ke arah perkampungan perampok. Ia mengepalkan tangannya, matanya penuh dengan tekad.

“Mereka tidak akan menang,” gumamnya pelan. “Bersiaplah, perampok. Aku datang untuk kalian.”

Dengan langkah cepat dan senyap, Lynx mulai merencanakan penyelamatan besar-besaran untuk membebaskan Jelita, Ayunga, dan semua tahanan yang kini berada di tangan para perampok.

Di ruangan utama markas perampok, Kronar berdiri dengan wajah merah padam, bekas luka di dahinya terlihat semakin tegang karena amarahnya. Di tangannya, parang milik Lynx yang berkilauan tertangkap cahaya lentera. Ia memutarnya perlahan, mengagumi keindahan senjata itu.

“Dia melarikan diri...” Kronar menggeram, suaranya rendah namun penuh ancaman. “Bagaimana bisa kalian membiarkan itu terjadi?”

Seorang anak buahnya, seorang pria dengan tubuh kecil dan wajah penuh luka lama, menundukkan kepala. “Kami tidak tahu bagaimana dia melakukannya, Pimpinan. Dia bergerak terlalu cepat—seperti hantu!”

"Betul pimpinan, tidak ada seorangpun dari kami yang melihatnya." Kata anak buahnya yang lain.

Kronar menghempaskan parang ke meja kayu di depannya, menghantamnya dengan suara keras. Anak buahnya melompat mundur karena kaget. “Jangan beri aku alasan bodoh! Kau pikir aku akan menerima kekalahan ini begitu saja?”

Anak buah lainnya mencoba menenangkan situasi. “Tapi, Pimpinan, dia tidak akan bisa melawan tanpa senjata ini. Parangnya ada di tanganmu.”

Mendengar itu, Kronar tiba-tiba tertawa, nada dingin dan penuh kesombongan. Ia mengangkat parang Lynx di udara, memandangnya dengan tatapan penuh kemenangan. “Senjata ini... milik pria yang sudah menghancurkan beberapa pimpinan Monrest. Sekarang ada di tanganku.”

Ia berbalik, menatap seluruh anak buahnya yang berkumpul. “Kalian dengar itu? Jika dia cukup bodoh untuk datang lagi, kita akan memenggal kepalanya dengan senjatanya sendiri.”

Tawa dingin mengisi ruangan, tapi Kronar segera mengangkat tangannya untuk menghentikan kegaduhan. “Tapi jangan lupa, dia bukan lawan biasa. Jika dia bisa melarikan diri, dia pasti akan mencoba menyelamatkan tahanan kita.”

Kronar berjalan mondar-mandir, memikirkan strategi baru. “Kita tidak bisa bertindak sembrono. Jika dia datang lagi, kita buat dia menyesal karena pernah melawan kita.”

Kronar memandang anak buahnya dengan sorot mata penuh tekad. “Dia tidak akan terjebak lagi dengan cara yang sama, tapi dia tetap tidak akan bisa berkutik jika kita memiliki sandera."

Kronar melanjutkan, "pisahkan semua tahanan. Jangan ada yang dibiarkan bersama-sama di satu tempat. Gunakan mereka sebagai tameng. Kalau dia datang lagi, gunakan mereka untuk menghentikannya. Jika dia melawan, bunuh satu per satu di depannya.”

Seorang perampok lain, dengan rambut kusut yang membawa tombak, melangkah maju. “Pemimpin, apakah kita juga harus memperketat penjagaan di sekitar penjara?”

“Tentu saja!” Kronar berteriak. “Perkuat semua bangunan tempat mereka ditahan. Pastikan setiap sudut dijaga. Tidak ada yang keluar, tidak ada yang masuk. Aku ingin dia melihat bahwa satu langkah salah akan mengorbankan semua nyawa tahanan.”

Perampok itu mengangguk cepat, lalu bergegas keluar ruangan untuk menyampaikan perintah.

Kronar kembali menatap parang di tangannya, memutar-mutar senjata itu dengan santai. “Lynx, aku tahu kau di luar sana, merencanakan sesuatu. Tapi kau bukan apa-apa tanpa senjata ini.”

Di luar, perampok-perampok mulai sibuk menjalankan perintah Kronar. Bangunan-bangunan kecil yang sebelumnya kosong kini diubah menjadi penjara sementara. Para tahanan, baik pria, wanita, maupun anak-anak, digiring ke berbagai tempat dengan tangan terikat dan mata penuh ketakutan.

“Cepat, bawa mereka ke bangunan itu!” teriak salah satu perampok sambil mengacungkan tombaknya ke arah sekelompok wanita yang berjalan dengan lemah.

“Apa kau pikir dia akan datang lagi?” tanya seorang penjaga muda yang baru bergabung.

“Dia pasti datang,” jawab seorang perampok berpengalaman sambil memeriksa busur panahnya. “Orang seperti dia tidak akan membiarkan kita menang begitu saja.”

Namun, wajah mereka tampak gelisah. Meskipun mereka mematuhi perintah Kronar, cerita tentang kemampuan Lynx menyebar dengan cepat. Ada rasa takut yang sulit mereka hilangkan, terutama setelah mendengar bahwa Lynx pernah mengalahkan para pimpinan prajurit Monrest.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Kronar berdiri di pintu utama markasnya, mengamati anak buahnya bekerja. Wajahnya dingin, tapi di balik itu ada rasa puas.

“Dia akan kembali,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Dan ketika dia melakukannya, aku akan memastikan dia tidak akan pernah meninggalkan tempat ini hidup-hidup.”

"Jika ada yang mencoba melarikan diri, bunuh mereka di tempat," katanya kepada penjaga. "Dan pastikan semua tahanan tahu bahwa nyawa mereka tergantung pada keputusan Lynx."

Salah satu penjaga tampak ragu. "Tuan Dalmar, apa kau yakin dia akan menyerah?"

Dalmar menyeringai licik. "Dia punya kelemahan. Dan itu yang akan aku gunakan untuk menghancurkannya."

